8 Hotel Butik Berarsitektur Memukau di Bali | TIBA-TIBA
Membagikan
Sebagai desainer, kami selalu mencari hotel yang menghadirkan hal berbeda. Bali tidak hanya diberkahi dengan kebudayaan yang luar biasa, tetapi juga menjadi rumah bagi beberapa hotel butik dengan arsitektur paling ambisius di Asia tempat-tempat ketika bangunannya sendiri menjadi daya tarik utama layaknya fasilitas kolam renang. Berikut adalah delapan tempat favorit kami yang dipilih murni karena keunggulan desainnya.

1. Capella Ubud
Dirancang oleh Bill Bensley, Capella Ubud adalah perkemahan bermodel kemah (tented camp) yang dibangun di Lembah Keliki tanpa menebang satu pohon pun. Sebanyak 22 unit kemah dirajut di antara tajuk hutan (jungle canopy) yang sudah ada. Setiap kemah mengusung gaya profesi yang berbeda dari ekspedisi fiktif Eropa abad ke-19: kapten, tukang kayu, hingga kartografer. Kemah-kemah ini dilengkapi dengan bak mandi dari tembaga tempa serta tingkat maksimalisme yang tampak tidak biasa, tetapi anehnya bekerja dengan sangat baik.

2. Alila Uluwatu
Studio WOHA yang berbasis di Singapura membangun resor di atas tebing ini hampir seluruhnya menggunakan batu kapur hasil penambangan di lokasi. Resor ini memiliki atap berundak yang terinspirasi oleh terasering sawah setempat dan dilapisi batu apung vulkanik sebagai penyekat suhu alami. Hasilnya adalah arsitektur paviliun khas Bali yang disederhanakan ke dalam bingkai modernis—tenang, berwarna pucat, dan secara jelas dibentuk oleh alam tempatnya berdiri. Resor ini memenangkan penghargaan World's Best Holiday Building pada World Architecture Festival 2010—sebuah pencapaian besar untuk bangunan yang sebagian besar terbuat dari batu. Selain itu, terdapat pula area santai (lounge) yang bertengger mengapung di atas tebing...

3. Uluwatu Surf Villas
Alexis Dornier, bekerja sama dengan Tim Russo, merancang setiap vila di atas tebing ini secara individual. Meskipun vila Cliff Front 7 terlihat sedikit terlalu mirip dengan Sheats-Goldstein House karya John Lautner yang terkenal, setiap vila di properti ini memiliki desain yang unik. Kayu jati daur ulang dan kayu ulin bertumpu pada batu kapur lokal. Desainnya sangat menonjolkan budaya berselancar (surf culture) sesuai tujuan pembuatannya: struktur atap kayu terekspos, jendela atap (skylight), kain nila (indigo) buatan lokal yang indah, serta suasana gaya bohemian (boho) yang santai dan sejuk. Ini adalah bentuk modernisme tropis yang memahami dengan tepat di pantai mana ia berada.

4. The Slow, Canggu
Firma arsitektur lokal berbasis di Bali, GFAB Architects, mengusung konsep "brutalisme tropis" untuk properti ini, dan itu adalah deskripsi yang sangat akurat beton mentah, batako, kayu lokal, dan batu alam, disaring melalui referensi arsitektur Tadao Ando serta arsitektur pertengahan abad (mid-century) Brasil. Sekat berlubang (perforated screens) dan ruang kosong mengambil alih peran yang biasanya diisi oleh atap paviliun Bali, hanya saja dengan keterlibatan susunan bata yang jauh lebih dominan. Palet warnanya minimalis, namun memberikan dampak maksimal yang ramah bagi para peselancar.

5. The Tiing, Tejakula
Memiliki gagasan serupa tetapi terletak di pesisir utara Bali yang terpencil, arsitek Nic Brunsdon dan studio lokal Manguning mencetak beton secara langsung menggunakan cetakan bambu. Hal ini menyisakan tekstur dinding bergelombang dan teranyam di bekas cetakan bambu tersebut. Brunsdon menyebut pendekatan ini sebagai "regionalisme tangguh" (rugged regionalism) arsitektur yang sengaja dibangun agar menyatu dengan cuaca alami alih-alih mempertahankan tampilan yang selalu tampak baru. Di area pintu masuk, terdapat satu-satunya kolam renang berwarna merah di Bali, yang bisa jadi merupakan pilihan desain berani atau cara yang sangat baik untuk menyegarkan para tamu setelah perjalanan jauh ke utara.

6. Komaneka at Keramas Beach
Terletak di balik pantai berpasir hitam di pesisir timur Bali, properti ini menonjolkan kerajinan kayu yang halus serta jalan setapak terangkat (elevated walkways) yang melintas tepat di atas hamparan sawah milik resor sebuah pengingat kecil yang disengaja tentang apa yang ada di sana sebelum vila-vila tersebut dibangun. Ini adalah arsitektur Bali tanpa kesan dramatis berlebihan: kontemporer, kaya akan elemen kayu, dan membiarkan pemandangan samudra serta sawah yang asri menjadi daya tarik utamanya.

7. Further Hotel, Pererenan
Dirancang oleh studio Italia MORQ bersama firma Australia Studio Wenden, Further mengubah model resor kompleks berbenteng yang umum menjadi sesuatu yang lebih terbuka. Fasad bata bernuansa warna terakota menjulang langsung dari tepi jalan, dengan sekat bermotif yang menyaring pencahayaan ke dalam area halaman di belakangnya. Bangunan ini dibuat dari palet material yang terbatas (plester warna burnt sienna, batu travertin, besi tempa) yang dirancang agar tahan terhadap cuaca Bali alih-alih melawannya. Tanpa gerbang megah, tanpa jalan masuk yang dijaga ketat—hanya arsitektur yang menyatu dan menyambut lingkungan desa sekitar.

8. Lost Lindenberg, Pekutatan
Alexis Dornier dan Studio Jencquel membangun tempat ini berupa empat menara rumah pohon yang dibuat bertingkat di pesisir barat berpasir hitam Bali. Menara-menara ini dihubungkan oleh jalan setapak terangkat di atas tajuk hutan (jungle canopy)—terdiri dari total delapan kamar, dan tidak ada satu pun yang menyentuh tanah. Seluruh bangunan menggunakan kayu lokal dan batu sungai, tanpa bar mini ataupun televisi. Tempat ini lebih menyerupai desa terapung di tengah daerah terpencil yang kebetulan memiliki fasilitas spa dan satu bar yang menyenangkan.
Apakah Anda membutuhkan inspirasi desain lainnya?